Liputan SAI Palembang di AntaraSumsel.com

December 18, 2024

Berikut adalah artikel liputan Sekolah Alam Indonesia (SAI) Palembang di Antarasumsel.com pada tahun 2012.

“Saya pak, saya pak,” kata Adel (11) siswa kelas V Sekolah Alam Bukit Siguntang Palembang dengam suara paling keras ketika gurunya menanyakan, golongan darah apa yang paling banyak di dunia ini

Ayo, apa jawabannya Adel? golongan darah O Pak. Iya jawabannya benar. Satu lagi pertanyaan sebelum mengakhiri pelajaran kita di saung hari ini, buah apa yang terkenal?

“Saya pak, saya,” ujar Dinda yang duduk di pagar saung tempat mereka belajar dan berada di tengah kebun yang menjadi lokasi tempat mereka belajar.

Apa jawabnya Dinda? Anggur Pak!, iya benar anggur paling populer di dunia ini.

Sang guru menggunakan media permen untuk mengajari anak-anak didiknya mengetahui sejumlah ilmu pengetahuan umum.

Permen-permen yang bertuliskan pertanyaan dan jawaban itu langsung diserahkan kepada siswa-siswi yang berhasil menjawab pertanyaan dengan tepat.

Ada orang enam siswa yang saat itu belajar di dalam saung beratap rumbia secara aktif berebutan menjawab pertanyaan setiap guru melontarkan.

Anak-anak usia 11 sampai 12 tahun itu mengerumuni Pak Guru yang melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang mungkin di tempat lain tidak ditanyakan.

Suasana belajar juga kental dengan permainan dan menyatu dengan alam. Anak-anak perempuan di sekolah itu semuanya menggunakan pakaian muslimah dengan berjilbab. Sedangkan yang putra berbusana kasual bebas mengenakan celana panjang.

Belajar di saung-saung di tengah kebun menjadi ciri sekolah alam tersebut. Di kebun itu, tumbuh beragam tanaman baik berupa buah-buahan maupun sayuran.

Tanaman pepaya california dan terong serta kancang panjang ketika memasuki pagar sekolah itu langsung menyambut siapapun yang datang.

Layaknya sekolah alam, area sekolah dipenuhi beragam pohon termasuk disediakan juga sebuah rumah pohon.

Di sekolah tersebut juga tumbuh tanaman ilalang yang cukup luas, pengelola sekolah juga menyiapkan kolam khusus untuk belajar dan bermain bagi anak-anak yang menempuh pendidikan di lembaga itu.

Selain itu, kolam pasir, tali temali dan fasilitas seluncur atau biasa disebut perosotan disiapkan pengelola sekolah itu.

Daya, guru bahasa Inggris di sekolah itu mengatakan anak-anak sangat betah berada di sekolah ini karena cara belajar mereka terapkan sangat bervariasi.

“Itu, contohnya, Achyar (4) siswa TK A seharusnya pukul 11.00 WIB sudah pulang tetapi sampai pukul 14.00 WIB tidak mau pergi padahal sudah dijemput orangtuanya,” kata Daya lulusan FKIP Universitas Sriwijaya tersebut.

Dia menjelaskan, anak-anak sangat senang belajar karena mereka diperbolehkan berkreasi dalam belajar. Bahkan ketika hujan deras siswa TK dan SD biasanya rebutan ingin mandi hujan.

Guru memperbolehkan mereka mandi hujan asal siswa-siswi membawa salinan untuk berganti pakaian.

Mereka dibebaskan untuk bermain apapun yang disediakan di area sekolah tersebut. Guru hanya bertugas mengawasi dan mendorong mereka untuk meningkatkan kreativitas dalam mendukung kegiatan belajar mengajar di sekolah itu.

Sekolah Alam itu mahal?

Menyatu dengan alam itu di tengah hiruk pikuk perkotaan memang sesuatu yang dicari terutama untuk anak-anak usia sekolah.

Keterbatasan tempat bermain menjadi alasan orangtua menyekolahkan anak mereka di sekolah alam itu. Tetapi memang tak murah untuk menikmati fasilitas alam di perkotaan.

Untuk menjadi siswa sekolah alam dari mulai taman bermain saja biayanya sudah mahal, perlu jutaan rupiah agar bisa menikmati pendidikan di sana.

Itu baru uang masuk dan bangunan saja sedangkan dana per bulan mencapai Rp250.000 paling murah per siswa.

Kepala Sekolah Alam Indonesia Bukit Siguntang Palembang Hamdan Cholil mengatakan memang kalau dilihat dari biaya cukup tinggi tetapi sangat sesuai dengan implementasi yang mereka terapkan dalam sistem belajar
mengajar.

Anak-anak juga diajarkan menjadi bagian dari sekolah tersebut sehingga mereka menjadi komunitas yang juga memiliki sekolah.

Dalam hal pelajaran dia mencontohkan, selama ini pelajaran matematika merupakan salah satu bidang yang tidak diminati anak-anak.

Ternyata, dengan sistem yang mereka terapkan mengaplikasikan mata pelajaran matematika dengan cara berkebun anak-anak luar biasa meminati.

Berkebun dengan belajar matematika salah satu mata pelajaran yang paling dianggap berat dan membosankan oleh anak-anak kini ternegasi.

Di sekolah alam semua pelajaran sangat disukai anak-anak karena metode penyampaian yang mereka terapkan bervariasi.

Menurut dia, dengan berkebun siswa juga diajarkan untuk berhitung, membagi dan mengurang sesuai dengan pelajaran matematika dan tentunya pelajaran lain juga bisa diterapkan, seperti IPA dan IPS.

Cara tersebut sangat efektif meningkatkan kemampuan anak dalam bidang pelajaran matematika tanpa menjadi beban bagi mereka.

Ia mengatakan, sesungguhnya semua anak itu cerdas dan memiliki beragam kelebihan hanya saja perlu bimbingan khusus agar bakat dan kemampuan mereka berkembang.

Di sekolah alam selain mengembangkan kemampuan akademis mereka juga menerapkan pelajaran untuk mendorong anak memiliki akhlak yang baik, berjiwa pemimpin dan logika berpikir ilmiah.

Dia menjelaskan, sebanyak 16 orang guru menjadi pembimbing 30 siswa di sekolah tersebut yang mengenyam pendidikan “play group”, TK dan SD.

Beragam metode mereka terapkan untuk menyampaikan pelajaran dengan “outbond” dan “outing” dimana anak-anak belajar langsung di alam baik menggunakan fasilitas tambahan, seperti jaring dan seluncur.

Hamdan menambahkan, siswa juga belajar di pondok atau saung-saung yang telah siapkan dan terbuat dari kayu serta lokasi sekolah menyatu dengan alam.

Area sekolah juga terdapat kebun dengan beragam tanaman sayuran dan buah-buahan, seperti pepaya dan kacang panjang yang semua hasil tanaman siswa dibantu guru

Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kota Palembang, Riza Fahlevi mengatakan sekolah alam menjadi salah satu cara mendidik anak untuk menjadi generasi muda berkarakter, mandiri dan berahlak mulia serta mencintai alam.

Di sekolah tersebut mengajarkan beragam pengetahuan yang langsung diaplikasikan dengan berbagai cara termasuk berkebun.

Lembaga pendidikan seperti ini sangat cocok diterapkan di kota pempek sehingga anak-anak mampu mengenal lingkungan lebih dekat dan tentunya mendorong mencintai alam dengan keberagaman isinya.

Keterbatasan arena bermain yang berbasis alam tidak lagi menjadi kendala ketika anak-anak bersekolah di lembaga pendidikan itu.

Hanya saja karena sekolah ini masih sangat terbatas biaya yang harus dikeluarkan juga cukup besar sehingga hanya orang-orang mampu saja yang baru menikmati belajar di lembaga pendidikan ini. (Nila Ertina Fu’adi)

Editor: Indra Gultom

Sumber artikel: AntaraSumsel

SAI Palembang ke Stasiun Klimatologi KentenLiputan Beritasatu.com ke SAI Palembang

Hubungi Kami

SAI Palembang, Jalan Putri Kembang Dadar (Belakang Bandiklan Provinsi) Bukit Siguntang Palembang.

0711-444-233
0857-5870-7137
Chat WA
Kabar Terbaru