Membangun Akhlak Mulia Di Era Informasi dan Sosial Media

May 07, 2025

Screenshot_31Akhlak mulia itu, bagaimana membangunnya ? bila sosok mulia itu masih ada, tak sulit bagi kita tuk melihat contoh kongkrit dan bisa langsung bertanya. Sebab pasti sudah masuk media dan ramai jadi tredding topic di sosmed. Begitulah euforia sekarang, yang baik dan yang buruk tersajikan dan menjadi pembicaraan. Tinggal kita mau memilih di arus apa ikut tergerus, yang
membawa manfaat dan kebaikan atau malah sebaliknya.

Zamannya sekarang siapa saja bisa jadi idola, maka berhati-hatilah mencari referensi inspirasi. Jika tak punya batasan nilai tentang benar dan salah, bakal tergusur dengan mudah, sebab semakin tipis antara tontonan dengan tuntunan. Hiburan dengan kesia-siaan. keburukan dapat diputar balikkan dengan indahnya dengan berbagai dalih dan pesona. Kebaikan dicitrakan mengekang dan menakutkan. Yang Cuma mengandalkan logika bisa terjebak dalam dilema. Pribadi tercabik-cabik mengikuti pola trend yang terus berubah. Satu-satunya penenang penjaga keluhuran hati adalah agama. Disitulah tempat iman dijaga.

Bagi yang masih percaya, silahkan buka referensi cerita. Dimana ada sosok sempurna yang pernah tercipta. Dibebani memegang amanah oleh sang pencipta, untuk mengubah akhlak manusia. Menjadi role model bagi siapa pun yang
mendamba, akan terwujudnya pribadi berakhlak mulia. Siapa mengikut sunnah akan mendapat pahala berbonus surga plus karakter sejati seorang leader.

Lihatlah kisahnya yang sejak belia sudah sangat terpercaya, bagi siapapun yang mengenalnya hingga mendapat gelar ‘Al amin’ walau tanpa sekolah dan ijazah.. Ketika sudah menjadi rasul dan terjamin surga, tak menyusutkan istighfar dan sujud setiap malam hingga kaki bengkak sebab keletihan. Saat terluka dalam
dakwah dan terjepit di bumi Tha’if, jibril marah lalu datang ingin memberi bantuan, tak ada sumpah serapah keluar dari lisan. Melainkan doa indah yang diijabah penghuni langit buat generasi mendatang.

Menjadi pemimpin nomor satu bukan membuatnya bergelimah harta dunia, melainkan kebersahajaan sudah cukup membuatnya bahagia. Prilaku santun dan halus pada si tua buta dengan mengantar makan dan menyuapinya, walau berbalas cacian tanpa henti hingga akhir hayat. Kepada para pemuda ia memberi kepercayaan seperti seorang sahabat, mengutus salman muda membawa kepentingan negara. Kasih dan sayang pada anak-anak, hingga rela menjelma menjadi kuda maupun unta buat mereka. Melihat yang kekurangan tak pernah tahan sedekah, walau uang digenggaman cuma 8 dirham ludes diperjalanan buat si papa.

Saat dendam begitu memuncak menguasai musuh hingga pedang hampir menebas lehernya, dibalas dengan tatapan tanya penuh kharisma, “cuma Allah satu2nya pelindung hamba lalu siapa pelindungmu.” Penuh perhatian dan berkata indah pada pasangan, walau hati gundah gulana memikirkan nasib umat yg terkepung makar dan siksa .

Bila Allah saja sudah memuji perilaku, pujian makhluk sdh tak laku. Ia khalifah istimewa yang merupakan masterpiece Sang Khaliq, “dan tidak ku utus engkau ya Muhammad, kecuali untuk memperbaiki akhlak manusia.”

Mari kita mulai sekarang memanfaatkan situasi ini dengan jeli, jika informasi menjadi sebuah kebutuhan maka pastikan informasi yang kita dapatkan bermanfaat bagi kebaikan diri pribadi, anak, keluarga, teman dan sekitar. Teknologi dan perangkat media bukan barang haram, namun penggunaan dan kontennya yang perlu dipastikan. Jika tidak baik dan benar, maka tinggalkan. Dan segala sesuatu yang berlebihan, pastilah membawa kemudharatan.

Sering-seringlah tilawah qur’an sebab itu rujukan utama bagi kehidupan, lalu membuka sirah untuk melihat pribadi2 indah yang Rasul dan sahabat contohkan jadikan sebagai rujukan. Ceritakan pada anak2 kita bahwa pernah ada generasi hebat dengan pribadi luar biasa dalam sejarah. Yang mampu menguasai jazirah juga menerangi eropa. Bila mencontoh, mereka bisa menjadi generasi hebat berikutnya.

Sosialisasikan dalam keseharian bagaimana akhlak mulia itu, dari mulai hal2 yang sederhana hingga melakukan ibadah yang benar menurut syari’ah. Lingkungan sekolah tempat anak menimba ilmu akan sangat berperan membangun paradigma melihat dunia, baik saat anak masih buta aksara hingga dia mampu memilih jalan hidup sendiri. Lingkungan keluarga dan tempat tinggal, semestinya menjadi madrasah pertama yang kondusif bagi terbangunnya akhlak mulia itu
tercipta.

Semoga kelak dari keluarga kita lahir generasi tangguh yang mampu menjawab tantangan jaman, berhias akhlak indah menebar pesona. Jika panutannya adalah Qur’an yang berjalan, maka pribadi2 sunnah akan bertebaran. Laksana mutiara dihamparan padang, dimana mereka terpilih menjadi pemimpin dambaan.

Wallahu a’lam…

Kembang sri rezeki (OTS Perwira Akbar Fadhil SD 1 SAI Palembang)

 

Selamat kepada Qyo (Siswa SD 3 ‘Laskar Pelangi’) Sekolah Alam Indonesia PalembangDAFTAR NAMA SISWA LULUS SELEKSI SIT IN GELOMBANG 1

Hubungi Kami

SAI Palembang, Jalan Putri Kembang Dadar (Belakang Bandiklan Provinsi) Bukit Siguntang Palembang.

0711-444-233
0857-5870-7137
Chat WA
Kabar Terbaru